Tombakjatim blogspot.com
Mojokerto 1/9/2024
Miris , mungkin itu Kata yang tepat yang dirasakan oleh Oktavia Dwi Rachmadani (18)th. Bagiamana tidak ,Di usianya yang baru menginjak remaja seumurannya yang biasanya bisa bermain, bercanda dengan teman temannya, Kini ia hanya bisa berbaring sembari duduk di kasur busa rumahnya.
Oktavia Dwi Rachmadani yang biasa dipanggil Okta, hanya bisa tiduran di kasur sejak mengidap tumor uterus yang menggerogoti badannya sejak 2022.
Gadis remaja warga Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Jawa Timur itu tinggal di rumah dengan kakaknya Septia Kustanti yang sudah memiliki dua anak. Sedangkan, kedua orang tua Septia dan Okta sudah meninggal dunia.
Sementara itu Septia Kakak Kandung nya Dikonfirmasi Awak Media mengatakan tidak mengetahui awal tumbuhnya tumor di perut adiknya itu. Dia mengetahu adiknya mengidap tumor ketika saat akan masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada 2022.
"Awal tumbuhnya tidak tahu. Dia mau masuk SMK dan mau coba rok (seragam sekolah), kok terasa ada benjolan di perutnya," kata Septia,Pada Jumat (30/8/2024).
Ia menambahkan, mengetahui ada benjolan di perut adiknya, Septia kemudian membawa Okta ke puskesmas setempat. Lalu, puskesmas memberikan rujukan ke RS Gatoel. Namun, karena alat di rumah sakit RS Gatoel kurang lengkap, Okta dirujuk ke RSPAL dr Ramelan, Kota Surabaya.
"Sama dokter Surabaya, ada hasil laboratorium. Kalau orang awam kayak saya sendiri bacanya memang ke arah tumor, tidak tahu tumor ganas atau tumor apa," ujar Septia.
Menurut perempuan 32 tahun ini, adiknya ini memang anak berkebutuhan khusus inklusi semenjak kecil sehingga tidak bisa menjelaskan sakit yang dirasakannya.
Hingga saat ini adiknya itu belum mendapatkan pengobatan sama sekali. Okta hanya mendapatkan penanganan nyeri dan pembengkakan.
"Belum ada sama sekali, cuma laboratorium. Saya waktu mengantar adik kontrol pertama tanya, ‘dok, apa tidak ada harapan sedikit saja,’ tidak ada," tutur Septia penuh haru
Okta terpaksa harus putus sekolah sejak 2023 lalu. Selain mengidap tumor, Septi menjelaskan, tidak ada biaya untuk membiaya pendidikan sang adik.
Penghasilannya sebagai penjaga kios minuman terbilang pas-pasan. Sementara kebutuhan harian Okta seperti popok sangatlah memberatkan dirinya yang kini jadi tulang punggung keluarga.
"Dapat KIS iya, kemarin sempat teman dari teman saya membuka donasi, terus dari kelurahan dari teman-teman Bu Lurah juga ada," ungkapnya.
Septia berharap, Seyogyanya Kepada dinas kesehatan dan dinas dinas terkait lainya tersentuh dan membantu ,sehingga adiknya bisa mendapatkan penanganan medis yang lebih baik dan bisa sembuh agar bisa beraktivitas kembali seperti remaja lainnya. "Harapan saya ada sentuhan dari Dinas Terkait dan semoga diberikan kesembuhan meskipun di operasi, diambil benjolan di Surabaya Se bisa mungkin ya alhamdulillah. Harapan kalau di sini tidak bisa ya di Surabaya bisa gitu," Harapnya.
Pewarta: Johan/Yustin